Sedang belajar nulis …

Barangkali Anda pernah dengar pencopet yang pura-pura muntah di angkot. Atau yang pura-pura memijat. Atau mungkin yang lebih aneh lagi seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Nah, beberapa hari yang lalu, tepatnya di daerah sekitar Cikawao, Bandung, ada modus yang baru lagi, yaitu pura-pura kejepit.

Ceritanya, saya sedang menunggu sebuah angkot berwarna biru tuastrip putih di tengah – hijau (jurusan apakah angkot tersebut? tebak sendiri :lol: ), tentunya yang nggak lagi ngetem. Beberapa detik kemudian, datanglah angkot yang agak penuh. Lumayan lah, setidaknya peluang angkot ini ngetem cukup kecil. Banyak ibu-ibu di dalamnya. Setelah saya naik, ada mas-mas naik (sebut saja X ya), tampangnya sih biasa-biasa aja. Angkotpun melewati lampu merah (Jalan Karapitan) dan selanjutnya ada bapak-bapak berbaju merah naik juga. Jadi konfigurasi penumpang di angkot tersebut kira-kira seperti ini. Tokoh-tokohnya saya warnain aja ya.

Lalu, angkotpun melaju ke arah jalan Buah Batu. Read the rest of this entry »

Just Another Spam

Nggak nyambung :D

Cuaca yang Aneh

Akhir-akhir, entah kenapa, ini cuacanya agak aneh, terkadang ekstrem juga. Kadang-kadang seharian mendung, angin kencang, seolah-olah mau turun salju hujan, tapi malah nggak jadi hujan. Di hari yang lain, tiba-tiba cuacanya panas, pas untuk jemur baju. Eh, 15 menit kemudian malah turun hujan deras, dan tentunya cuaca masih panas. Jadi ingat, waktu di angkot ada penumpang yang sedang menerima telepon, sepertinya dia ditanya tentang kondisi cuaca di jalan. “Ini lagi hujan,,,,,, TAPI PANAS!!!” :lol: Susah juga ya mendeskripsikannya ke orang lain.

Terlebih lagi cuaca sekarang sulit untuk diprediksi. Beberapa bulan yang lalu, hal ini masih mungkin. Caranya adalah dengan mengamati keadaan cuaca beberapa hari sebelumnya karena kemungkinan besar cuacanya sama. Terinspirasi dari materi kuliah ARMA, data yang akan datang dapat diprediksi dari data sebelumnya, special thanks to kuliah game PS3. Saya beri contoh. Misalkan, hari ini hujan jam 3, nah, besok kemungkinan jam 3 juga hujan. Saya  pernah bilang begini ke rekan saya, “Bawa payung, jam 3 biasanya hujan”, dan ternyata memang hujan pada kenyataannya. Tentu rekan tersebut heran, padahal tidak begitu aneh jika tahu teorinya. Lumayan lah, meskipun kuliah tersebut cukup sulit tapi ada kegunaannya. Saya sering ke tempat kerja naik sepeda (sekitar 24 km pp) kalau beberapa hari sebelumnya tidak hujan. Hasilnya lumayan, dari 5 perjalanan, hanya 1 yang meleset. Terkena hujan badai sesaat sebelum sampai tujuan selama 15 menit.

Tapi tidak untuk akhir-akhir ini, hasil prediksinya selalu meleset, jadi malas mau kemana-mana :lol: Paginya panas, tiba-tiba datang angin kencang, pohon tumbang di mana-mana. Keesokan hari, paginya panas, prediksi saya siangnya akan hujan deras. Eh, kenyataannya malah tambah panas. Beberapa teman di belahan bumi utara juga mengabarkan tidak turun salju. Wah, harusnya kan bulan Januari lagi dingin-dinginnya. Atau jangan-jangan musim saljunya mundur? Yang jelas di beberapa wilayah di Jakarta justru ada saljunya, nih contohnya.

Percaya Pada Teknologi?

Beberapa waktu yang lalu, kendaraan kami hampir ditabrak oleh sebuah mobil saat hendak parkir. Untung saja klakson sempat dibunyikan dan akhirnya mobil tersebut mendadak berhenti. Pengemudi mobilpun menoleh keluar, katanya mobil tersebut ada sensornya dan sensor itu tidak berbunyi. Mobil tersebut langsung kabur begitu saja. “Itu mobil gimana sih, masak nggak lihat,” tukang parkirnya sampai berkata seperti itu.

Benarkah kita dapat mempercayakan seluruhnya kepada teknologi, seperti pengemudi mobil ini? Bisa saja teknologi sensing seperti itu dapat membuat kesalahan. Ada mobil di belakang, tapi si sensor bilang tidak ada mobil. Mobil orang lain bisa rusak bila tidak melakukan cross check, yaitu melihat ke belakang, mendengar klakson atau instruksi tukang parkir.

Tiba-tiba saya jadi ingat riset di lab, yaitu radar. Sebenarnya kan mirip dengan sensor mobil, hanya saja objek yang dideteksi jaraknya cukup jauh. Terkadang tidak bisa kita lihat atau dengar. Tidak ada “tukang parkir” dan “klakson” yang membantu mengingatkan kita. Nah, bagaimana kita dapat memastikan bahwa hasil yang diperoleh radar itu benar-benar akurat? Punya ide?

  1. Ikan Salmon : Intelektual KAgetaN yang aSAL ngoMONg
  2. Piranha : PIkiRAN, HAti, dan bicara suka beda (hmm.. rasanya kurang pas ya, mestinya piranhaaaaa : PIkiRAN, HAti dAn bicarA sukA bedA *biar masuk semua :lol: )
  3. Ikan Teri Asin : Intelektual KAgetaN TERIak sAna-SINi
  4. Ikan Tongkol : TONG KOsong hanya bikin dongkoL (cuma tongkol aja, ikannya mana?)
  5. Ikan Paus : apa ya?? Loh, paus kan bukan ikan!! *cek: http://id.wikipedia.org/wiki/Paus_(mamalia)

Cuma merangkum dari sana dan sini.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti kuliah umum yang diselenggarakan oleh IEEE MTT/APS (Institute of Electrical and Electronics Engineers – Microwave Theory and Techniques/Antennas & Propagation Society) chapter Indonesia. Pembicaranya adalah Prof. Ke Wu dari Kanada.

Menulis paper itu seperti membuat makanan, rasanya harus enak bukan? Dalam kesempatan ini, beliau membagi tips-tips untuk menulis paper yang baik menurut IEEE (khususnya MTT), sehingga “rasanya enak”. Sebenarnya sih ada banyak, namun ini yang sempat saya catat. Apa saja? Read the rest of this entry »

201120112011

Bulan Nopvember ini banyak tanggal cantik yah,, hari ini tanggal 20 – 11 – 2011. Nggak akan ada lagi tanggal yang seperti ini. Yang paling mirip kira-kira tahun depan: 20 – 12 – 2012.

11-11-11

Tanggal cantik. Berulang lagi 100 tahun kemudian.

Coba perhatikan tanggal di komputer, sekarang bulan apa ya?

Kalo kata windows sih bulan Nopember, mungkin disesuaikan dengan tempat juga kali ya? :D

Seperti yang kita tahu, yang namanya material memiliki sifat-sifat tertentu. Ada yang kasar, ada yang halus, ada yang keras, ada yang lembut, ada yang murah, ada yang mahal, dll. Banyak lah pokoknya, tapi bagi medan elektromagnetik, dia hanya melihat 3 sifat saja. Apa sajakah itu?

Read the rest of this entry »

Baksil, Apa Kabar?

Di Bandung, ada daerah yang banyak ditumbuhi pepohonan, namanya Babakan Siliwangi (sebut saja BakSil). Kalau dulu, Baksil ini sering dijadikan sebagai tempat ospek (mungkin sekarang masih?).  Dan konon katanya, Baksil juga sempat mau disulap menjadi rumah makan, apartemen, dll. Tapi sekarang sudah dijadikan sebagai hutan kota dunia sejak September tahun ini.

Bagaimana kondisinya setelah ditetapkan sebagai hutan kota dunia? Lumayan lah, agak bagusan dikit. Ini buktinya.

Pintu masuk, di depannya ada tempat duduk-duduk dan parkir sepeda.

Ada jembatannya pula, yang seperti ini mungkin jarang dijumpai di tempat lain.

Di bawah jembatan, seingat saya tadinya ini jalan beraspal. Sekarang sudah ditanami pohon. Kalau pohonnya sudah besar, barangkali akan lebih bagus lagi.

Buat yang ingin tahu sejarah kawasan ini, Anda dapat melihatnya di sini (klik gambar untuk lebih jelas).

Akhir kata, semoga Baksil kondisinya tetap terawat dengan baik. Lumayan lah, ada tempat rekreasi untuk warga Bandung dan sekitarnya. Jangan sampai senasib dengan beberapa taman lain; pas awal-awal bagus, lama-kelamaan tak terawat, atau malah tergusur menjadi hutan beton.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.