Barangkali Anda pernah dengar pencopet yang pura-pura muntah di angkot. Atau yang pura-pura memijat. Atau mungkin yang lebih aneh lagi seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Nah, beberapa hari yang lalu, tepatnya di daerah sekitar Cikawao, Bandung, ada modus yang baru lagi, yaitu pura-pura kejepit.
Ceritanya, saya sedang menunggu sebuah angkot berwarna biru tua – strip putih di tengah – hijau (jurusan apakah angkot tersebut? tebak sendiri
), tentunya yang nggak lagi ngetem. Beberapa detik kemudian, datanglah angkot yang agak penuh. Lumayan lah, setidaknya peluang angkot ini ngetem cukup kecil. Banyak ibu-ibu di dalamnya. Setelah saya naik, ada mas-mas naik (sebut saja X ya), tampangnya sih biasa-biasa aja. Angkotpun melewati lampu merah (Jalan Karapitan) dan selanjutnya ada bapak-bapak berbaju merah naik juga. Jadi konfigurasi penumpang di angkot tersebut kira-kira seperti ini. Tokoh-tokohnya saya warnain aja ya.

Lalu, angkotpun melaju ke arah jalan Buah Batu. “Punten bu, (saya) mau buka jendela, (soalnya) panas” kata si X ke seorang ibu, sepertinya habis/mau menghadiri pengajian. Tiba-tiba, si ibu tersebut terlihat ketakutan, si X pun teriak-teriak. Wah,, jangan-jangan copet nih. Tas saya langsung saya pegang erat-erat. Eh, tunggu dulu, kok si ibu menunduk dan memegang erat tangan ibu pengajian di sebelahnya. Di pikiran saya, wah,, jangan-jangan ada lebah/serangga masuk angkot. Ternyata, si X pun bilang “Kecepet,, kecepet”, (mungkin kejepit dalam bahasa Sunda (?)) sambil berusaha mengeluarkan tangannya dari jendela. Si bapak berbaju merahpun bilang, “Kecepet”, sambil tersenyum dan tertawa kecil. Setelah berhasil mengeluarkan tangan dari jendela, si X pun turun dan bayar ongkos ke supir angkot. Hmm… aneh juga ya, masak habis kejepit langsung turun. Memangnya si X mau kemana sih?
Saat itu tidak ada yang merasa kehilangan sesuatu, jadi kami semua menganggap wajar peristiwa tersebut. Tak lama kemudian, di pertigaan *lupa nama jalannya* yang menuju ke tempat buku Palasari, si bapak berbaju merah turun dan seorang ibu dengan anaknya naik ke angkot tersebut. Sampai di sini suasana adem-adem saja.
Nah, beberapa menit kemudian, tiba-tiba ibu-ibu pengajian yang duduk di samping si X seperti mau menangis. “Tuh kan…”, katanya ke temannya yang duduk di sebelahnya. Lho, kenapa lagi ini? Ternyata, gelang si ibu hilang. Padahal katanya sudah dikunci. Mereka berpikir bahwa si X pelakunya, dan pasti diambil saat momen kejepit tadi. Begitu kurang lebihnya yang saya tangkap. Wah, kenapa baru nyadar ya? Dan kenapa korbannya ibu-ibu pengajian? Padahal mbak-mbak yang warna pink lagi memegang HP. Kalau kata ibu-ibu yang warna putih, ibu-ibu pengajian itu sudah diincar. Lagipula hari itu hari selasa; waktunya pengajian bagi ibu-ibu di Bandung, jadi incarannya adalah ibu-ibu pengajian. Pencopet biasanya bergerombol, tetapi siapa partnernya si X? “O… bapak-bapak baju merah tadi”, kata supir angkot menduga-duga. Barangkali benar juga, soalnya dia sempat ngomong “Kecepet” sambil tersenyum, jadinya semakin meyakinkan penumpang lain bahwa si X memang kejepit.
Begitu kira-kira kejadiannya. Wallahu a’lam. Semoga ibu-ibu pengajian tersebut mendapat ganti yang lebih baik. Dan untuk para penumpang angkot, harus selalu waspada bila ada kejadian aneh-aneh. Dari berbagai modus, bisa ditarik benang merah bahwa para pencopet memanfaatkan kejadian yang “tidak biasa” (entah itu muntah, kejepit, dll.) untuk mengalihkan perhatian penumpang. Sehingga mereka leluasa mengambil barang-barang berharga kita tanpa disadari *bahkan nyadarnya bisa beberapa menit kemudian*. Kata Bang Napi: Waspadalah.. waspadalah!!
Comments on: "Modus Baru Pencopetan di Angkot: Pura-pura Kejepit" (2)
anantoooo. apa kabarmu?
Hmm, biru-putih-hijau, angkot ssc yaa tubagus ismail? *sokinget
Hehehe.. baik shen. Btw, itu bukan ssc lho, beda warna strip, beda angkot