Main-main ke Lab Radar

Senin beberapa bulan yang lalu *harusnya postingan lama ini*, saya main-main ke lab radar. Lho, bukannya udah sering ya? Apa yang istimewa?

Lab radar. Yap, anak-anak telkom pasti sudah tidak asing lagi mendengar lab ini. Kuliah, ujian, dan praktikum sering kali dilakukan di lab ini. Lab ini merupakan salah satu dari dua buah lab yang ada di teknik telekomunikasi (tentunya lab satunya lagi adalah telematika). Lab ini sering disebut juga LTRGM atau Lab Telekomunikasi Radio dan Gelombang Mikro.

Meskipun dinamakan lab radar, ada yang pernah melihat radar di lab tersebut?  Sejujurnya, saya belum pernah melihat apa itu yang namanya radar. Sampai suatu hari, tepatnya hari senin, salah seorang dosen, Pak Andriyan  mengajak saya dan seorang teman seperkuliahan naik ke lantai atas memasuki suatu ruangan kecil di samping papan pengumuman. Ruangan tersebut merupakan ruangan riset radar, yang sudah pasti ada radar di dalamnya.

Seperti apa radar itu?

Seperti ini …

radar

Radar (Radio Detection and Ranging) merupakan suatu alat yang menggunakan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi berbagai benda pada jarak tertentu. Radar akan memancarkan sinyal elektromagnetik dan menerimanya kembali setelah dipantulkan oleh suatu benda. Nah, selang waktu antara sinyal yang dipancarkan dan diterima kembali diukur. Karena kita mengetahui kecepatan gelombang elektromagnetik pada medium tertentu, maka posisi benda tersebut dapat diketahui.

Radar yang ada di lab ini merupakan GPR (Ground Penetrating Radar), yaitu suatu radar yang memungkinkan kita untuk mendeteksi berbagai macam benda yang berada di bawah permukaan tanah, misalnya berbagai artefak bersejarah, fosil purba, ranjau, dan sebagainya. Gambar berikut adalah contoh pendeteksian suatu benda di dalam tanah (kuburan bersejarah di Alabama, sumber slide kuliah Pak Andriyan).

kuburan

Agar dapat memancarkan dan menerima gelombang elektromagnetik, tentunya diperlukan antena. Antena merupakan suatu transduser yang mengubah bentuk gelombang yang tidak terbimbing menjadi gelombang terbimbing, dan sebaliknya. Berikut ini adalah antena yang digunakan.

antena

Data-data yang diperoleh akan diolah oleh sebuah komputer. Nah, data-data ini akan diolah dengan menggunakan penginderaan kompresif (compressive sensing). Apaan tu? Penginderaan kompresif merupakan teori yang memungkinkan kita untuk melakukan pencuplikan sinyal dengan laju di bawah Nyquist Rate. Nyquist sendiri menyatakan bahwa suatu sinyal yang akan disampling dapat direkonstruksi menjadi sinyal semula jika laju sampling minimal 2 kali frekuensi terbesar dari spektrum sinyal tersebut. Artinya, dengan penginderaan kompresif ini, maka laju sampling dapat lebih rendah. Jika laju sampling lebih rendah, jumlah data yang diambil dalam waktu tertentu akan lebih sedikit, sehingga akan lebih efisien dalam penyimpanan data.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s