Kesan Pertama Tentang Jerman

Beberapa minggu yang lalu, saya tiba di Jerman untuk melanjutkan studi. Ini adalah pertama kalinya saya datang ke negara ini. Untungnya saat saya tiba, cuacanya sudah mulai hangat. Tentunya “hangat” di sini menurut penduduk Jerman, karena pada kenyataannya saya tetap harus memakai pakaian berlapis-lapis sejak keluar dari airport. Tapi akhirnya mulai terbiasa juga dengan kondisi seperti ini.

Untuk mencapai universitas, ada beberapa alternatif transportasi umum dari bandara (kebetulan saya mendarat di Frankfurt). Waktu itu, saya memilih naik kereta. Sekitar 1 jam kemudian, saya pun tiba di kota Darmstadt, kota tempat kampus saya berada. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari bandara. Saya sempat foto penampakan stasiunnya.

Bersih ya stasiunnya? *ups,, kecuali ada beberapa sampah rokok di sudut-sudut tertentu.

Yang menarik adalah, coba perhatikan, apakah terlihat ada calon penumpang yang menunggu kereta? Kenapa bisa sepi sekali, padahal ini adalah stasiun terbesar di kota ini? Sebenarnya tidak juga, ada alasan di balik sepinya stasiun ini. Bukan karena tidak ada yang mau naik kereta. Nanti kalau sempat akan saya buat posting sendiri tentang transportasi di Jerman, barangkali bisa menjadi contoh buat transportasi di Indonesia (terumata buat Jakarta yang kacau balau).

Hal lain yang cukup menarik adalah ketika kita membeli minuman yang menggunakan botol plastik. Kebetulan saat pertama kali datang, saya sempat membeli minuman di supermarket yang berada di stasiun. Setelah dilihat di bonnya, kok ada biaya tambahan sebesar 0,25 Euro?? Ternyata, setelah ditanya ke kasirnya, ini disebut “Pfand”. Pfand ini merupakan sejenis deposit, kita membayar 0,25 Euro untuk setiap botol yang kita beli. Kalau kita mengembalikan botol tersebut ke supermarket (tempat pengembaliannya disediakan kok), maka 0,25 Euro yang kita bayarkan sewaktu membeli minuman akan dikembalikan. Hebat juga ya bisa membuat sistem seperti ini. Masyarakat pun akhirnya sadar untuk tidak membuang-buang sampah plastik sembarangan dan lebih mencintai lingkungan. Kira-kira apakah bisa di Indonesia diterapkan sistem seperti ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s